Wamen ESDM Peringatkan Bahaya Karhutla pada Fasilitas Migas
By Admin

Forum ADEXCO 2026/ Dok. ESDM
nusakini.com, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) secara resmi mengeluarkan peringatan kerentanan baru terkait ancaman bencana alam yang semakin sistemik. Pernyataan krusial ini disampaikan secara langsung di hadapan ratusan delegasi global dalam pembukaan forum ADEXCO 2026 di Jakarta, Rabu (9/9/2026).
Wakil Menteri ESDM, Yuliot, menyatakan bahwa eskalasi risiko kebencanaan saat ini bergerak jauh lebih cepat dibandingkan kapasitas mitigasi yang dimiliki pemerintah. Kondisi darurat tersebut dipicu oleh perpaduan destruktif antara masifnya degradasi lingkungan hidup, anomali perubahan iklim, dan tingginya angka ketimpangan sosial.
Merespons memburuknya tren ancaman tersebut, pemerintah segera mengambil manuver taktis dengan menginstruksikan tiga strategi pertahanan bencana berskala nasional. Kebijakan ini mewajibkan seluruh elemen untuk memprioritaskan investasi infrastruktur hijau dan memastikan jangkauan peringatan dini mencapai kelompok penyandang disabilitas secara akurat.
"Kita harus ingat bahwa every day counts, di mana menunda mitigasi risiko bencana hari ini berarti menumpuk korban jiwa di masa depan," kata Yuliot di podium konferensi. Pernyataan bernada tegas ini sekaligus menjadi instruksi mutlak bagi seluruh pelaku industri nasional untuk segera membenahi standar mitigasi bencana di lapangan.
Selain merilis pedoman kebijakan, kementerian juga menyoroti secara tajam rentetan kasus kebakaran hutan dan lahan yang tengah mengepung area Sumatra hingga Papua. Krisis kabut asap ini dinilai sangat berisiko menghentikan aliran pasokan energi karena titik api berdekatan dengan instalasi vital pertambangan maupun kilang migas.
Dalam kesempatan yang sama, negara mengonfirmasi keberhasilan aparat terkait dalam memblokir meluasnya titik api di sekitar fasilitas energi strategis. "Kami menyampaikan terima kasih dan apresiasi setinggi-tingginya kepada BNPB atas respons cepatnya dalam memadamkan kebakaran hutan di wilayah kerja migas Tangguh Bintuni, Provinsi Papua Barat," tutup Yuliot. (*)